Biostratigrafi dan Lingkungan Pengendapan Formasi Ngrayong di Daerah Cepu

Rp200,000.00

ABSTRAK

Lingkungan tempat diendapkannya Formasi Ngrayong sampai saat ini masih diperdebatkan. Penelitian mengenai lingkungan pengendapan Formasi Ngrayong dengan menggunakan data yang komprehensif, antara lain biostratigrafi dan litostratigrafi, akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai batas interval, umur serta lingkungan pengendapan dari Formasi Ngrayong, khususnya di daerah Cepu. Data yang digunakan pada studi ini terdiri dari data deskripsi lumpur pemboran pada 6 sumur, data biostratigrafi dan data seismik. Metode yang dipergunakan pada studi ini adalah dimulai dengan melakukan analisis biostratigrafi dan batimetri. Analisis biostratigrafi dilakukan dengan cara menentukan kemunculan awal atau akhir dari suatu
fosil foraminifera planktonik, yang dapat dipakai untuk biomarker dalam korelasi sumur satu dengan sumur lainnya. Selain itu dilakukan pula pengelompokan fasies-fasies yang terdapat pada Formasi Ngrayong, penentuan umur dan lingkungan pengendapannya. Berdasarkan analisis pada sumur Cepu-1, Cepu-5 dan Cepu-6, terdapat lima zona foraminifera planktonik, yaitu Zona Orbulina suturalis – Globorotalia peripheroacuta, Zona Globorotalia peripheroacuta – Globorotalia praefohsi, Zona Globorotalia praefohsi –
Globorotalia fohsi, Zona Globorotalia fohsi – Sphaeroidinellopsis subdehiscens dan Zona Sphaeroidinellopsis subdehiscens – Globigerina nepenthes. Formasi Ngrayong di daerah Cepu diendapkan pada umur Miosen Tengah atau berada pada zona kisaran N9 – N12 (Blow, 1979). Berdasarkan analisis biostratigrafi yang dilakukan pada sumur Cepu-1, Cepu-5 dan Cepu-6, dapat ditentukan tiga biomarker, yaitu kemunculan awal fosil Sphaeroidinellopsis subdehiscens, kemunculan awal fosil Globorotalia cultrata dan kemunculan awal fosil Sphaeroidinellopsis semminulina kochi. Formasi Ngrayong di daerah Cepu dibatasi oleh batugamping Formasi Bulu pada bagian atas dan batugamping Formasi Tawun pada bagian bawah, serta terdiri dari tiga kelompok fasies, yaitu fasies batupasir, batugamping dan serpih. Formasi Ngrayong pada daerah Cepu diendapkan pada lingkungan paparan. Pengendapan Formasi Ngrayong ditafsirkan berhenti pada lingkungan paparan 100 – 200 m atau zona neritik luar, setelah itu berkembang endapan batulanau dan serpih Formasi Tawun hingga lingkungan bathyal. Rasio batupasir – serpih dari Formasi Ngrayong di daerah Cepu relatif semakin menurun ke arah selatan seiring dengan perubahan zona batimetri ke arah yang lebih dalam.
Dominasi fosil laut dangkal terhadap fosil laut dalam pada sumur Cepu-1 ditafsirkan bahwa telah terjadi proses badai pada pengendapan Formasi Ngrayong di daerah Cepu. Sedangkan pada sumur Cepu-5 dan Cepu-6, dimana secara biostratigrafi setara dengan Formasi Ngrayong di sumur Cepu-1 (N9 – N12), dominasi fosil-fosil laut dalam terhadap fosil-fosil laut dangkal ditafsirkan telah terjadi proses turbidit pada saat pengendapan Formasi Tawun di daerah Cepu. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa endapan di daerah Cepu yang berada pada kisaran N9 – N12 tidak seluruhnya berkembang Formasi Ngrayong, namun sebagian
diendapkan Formasi Tawun yang diendapkan pada lingkungan bathyal dengan indikasi telah terjadi proses turbidit. Sementara Formasi Ngrayong di daerah Cepu diendapkan pada lingkungan paparan dengan indikasi proses badai.

Description

Author : Iman Firman Sjamsuddin, Djuhaeni