One day course and workshop: “Static Modeling Design”

(Jakarta-ISPG)- 10 September 2016 Salah satu rangkaian kegiatan Indonesian Society of Petroleum Geologists (ISPG) adalah menyelenggarakan One day course & workshop, bertema “Static Modeling Design”, yang merupakan bagian rangkaian kegiatan basin Forum ISPG. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Dewan Energi Nasional (DEN) kantor Komite Eksplorasi Nasional (KEN), yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Pada kegiatan ini mengundang tiga (3) orang narasumber yang memiliki keahlian dibidang Geomodelling, Geophysics & Petrophysics: Bpk. Budi Rahim Permana (Expert Geomodelling), Bpk. Yan Darmadi (Expert Geophysics) dan Bpk. Miftakhul Firdaus (Expert Petrophysics)

Pembukaan acara disampaikan oleh kepala divisi Internal ISPG Iwan Bagus I. Sesi pertama workshop disampaikan oleh Bpk. Budi Rahim Permana. Pada sesi ini dijelaskan prinsip-prinsip fundamental dalam pekerjaan static modelling, sesi ini kemudian berlanjut dengan beberapa exercise. Peserta dibagi menjadi enam (6) kelompok ; masing-masing kelompok beranggotakan enam hingga tujuh orang. Exercise pertama adalah bagaimana interpretasi geometri channel dari data spatial yang terbatas. Dalam kasus ini kita belajar memahami kontrol geologi terhadap ketidakpastian (uncertainty).

Exercise sesi pertama: identifikasi geometri fluvial channel dari data spasial berupa foto udara. Peserta diajak mengenali ketidakpastian dari data yang terbatas dalam pemodelan reservoir.
Exercise sesi pertama: identifikasi geometri fluvial channel dari data spasial berupa foto udara. Peserta diajak mengenali ketidakpastian dari data yang terbatas dalam pemodelan reservoir.

Pada, exercise kedua, peserta mempelajari bagaimana menginterpretasi geometri reservoir dari kasus riil lapangan, dengan menggunakan satu peta depth structure dan tiga well log. Peserta diberi keleluasaan untuk menanyakan informasi geologi tambahan untuk mendapatan interpretasi geometri yang lebih presisi secara geologi. Data regional geologi, data biostratigrafi, data struktur sedimen, data paleo current dan data lainnya. Dari exercise kedua ini peserta mendapat pemahaman, untuk memperkecil uncertainty kita harus mencari peluang mendapatkan informasi sebanyak banyaknya dari data yang ada.

Sesi kedua disampaikan oleh Yan Darmadi. Sesi kedua dimulai pukul 11.00 WIB. Sub tema yang disampaikan oleh Bpk. Yan adalah pendekatan geofisika dalam pemodelan reservoir. Dalam pemodelan reservoir, data seismik adalah data yang paling esensial karena data seismik meliputi dimensi lateral (tidak hanya informasi vertikal). Data seismik sangat membantu dalam hal pemetaan distribusi dan geometri reservoir. Sesi ini dimulai dengan penjelasan tentang dasar-dasar seismik, mengenai koefisien refleksi, convention polarity dan juga mengenai zero phase. Beberapa tools utama seismik reservoir yaitu seismic rock physics, seismic amplitude, seismic velocity, seismic inversion, seismic attributes, AVO dan 4D seismic monitoring. Tujuh tools tersebut diperlukan untuk mendapatkan informasi persebaran lateral reservoir. Dimulai dari hal yang paling sederhana kemudian menuju hal yang lebih kompleks dan advanced. Idealnya (sejauh memungkinkan) sangat penting juga dilakukan forward model, rock physics. Dalam pemodelan reservoir, input utama data seismik adalah seismic horizon (biasanya digunakan sebagai top dan base reservoir); dan seismic attribute. Attribute yang paling diharapkan adalah attribute yang paling merepresentasikan suksesi stratigrafi baik lateral maupun vertikal. Namun setiap lapangan itu unik sehingga tidak ada attribute khusus yang secara general bisa menjadi attribute baku dan selalu bisa diterapkan di setiap lapangan.

Sesi ke tiga dibawakan oleh Bpk. Miftakhul Firdaus. Pada sesi ini dijelaskan mengenai aspek Petrofisika. Data petrofisika menjadi data fundamental dalam proses reservoir modeling. Hal terpenting dalam analisa petrofisika adalah konsistensi antara parameter input dan metodologi. Dalam sesi ini dijelaskan mengenai skema umum alur pekerjaan petrofisika, termasuk beberapa kasus khusus dari pengalaman pribadi yang pernah ditangani pembicara. Secara umum data core digunakan untuk mem-validasi data well log. Namun perlu hati-hati bahwa ada kemungkinan core tidak bisa digunakan untuk mem-validasi well log. Harus dipahami bahwa core sangat rentan mengalami perubahan dari kondisi yang sebenarnya. Tidak ada garansi 100% bahwa core tidak mengalami gangguan selama proses dari sumur hingga analisis laboratorium. Umumnya pada saat pemindahan sejak dari sumur hingga ke laboratorium, proses berada diluar pengawasan dan kontrol geologist/petrophysicist. Benturan dan gangguan fisik bisa saja terjadi dalam proses transportasi, dan ini sangat mungkin mengubah properti fisik core.

Sesi terakhir atau sesi ke-4 (empat) kembali dibawakan oleh Bpk. Budi R permana. Sesi ini bertajuk Input Pitfalls. Input pitfalls bisa terjadi dari setiap tahap. Misal dari sisi seismik interpretasi pertama terkait dengan interpretasi fault. Fault cukup diinterpretasi pada zona target, tidak perlu dari permukaan hingga basement. Fault dibuat serapi mungkin, minimalisir “curvy fault stik”. Fault diinterpretasi oleh satu interpreter dan dilakukan depth conversion oleh satu orang akan lebih baik, untuk mengurangi kemungkinan mismatch pada fault geometry. Kedua, terkait horizon picking. Beberapa software belum bisa menangani multi-Z/kedalaman bebeda pada 1 koordinat yang sama. Khususnya untuk kasus yang berkaitan dengan thrust fault perlu hati-hati saat melakukan picking, pilih zona targetnya, jika target adalah hanging wall maka abaikan dulu footwall-nya, demikian sebaliknya. Yang ketiga terkait seismic attribute, sangat mungkin geometri yang dihasilkan attribute tidak serta merta merepresentasikan stratigrafi. Diperlukan kehati-hatian dalam memilih attribute.  Jika tidak ada attribute yang bisa memberikan geometri dan distribusi lateral reservoir bisa diterapkan model konseptual. Boleh saja menggambar batas reservoir dari analog geologi yang relevan dengan lapangan kita. Pitfall yang berkaitan dengan petrofisika umumnya terjadi berkaitan dengan log conditioning atau log quality control. Ada kalanya terjadi missdepth dan error lain yang berkaitan dengan kondisi sumur saat akuisisi data log. Selain itu penentuan cut-off terhadap parameter petrofisika. Kembali ditegaskan bahwa konsistensi input parameter mutlak diterapkan. Vshale adalah salah satu komponen pokok dalam petrophysics, jika dari awal perhitungan atau penentuan cut-off Vshale kurang tepat, umumnya akan disusul dengan kesalahan-kesalahan lainnya. Dari aspek geomodeling, saat membangun grid perlu diperhatikan major flow direction, pertimbangkan major Fault direction dan arah sedimentasi regional. Horizon yang mewakili batas bawah/base reservoir pada dasarnya perlu dilakukan picking tersendiri. Jika tidak dilakukan, maka perlu hati-hati melakukan saat duplikasi top reservoir untuk dijadikan base, serta banyak penjelasan lain terkait misalnya pitifall pada saat penentuan skema rock type. Sesi ini ditutup dengan penjelasan mengenai panduan atau ketentuan dari SKK Migas terkait pembuatan statik model.

Acara Workshop ditutup pada pukul 16.30 wib dengan kegiatan penyerahan sertifikat kepada pembicara dan sesi foto bersama baik dengan pembicara, peserta dan panitia dari ISPG.

Penyerahan sertifikat kepada ketiga narasumber oleh Kadiv Internal (Urut kiri ke kanan) Budi R. Permana, Iwan Bagus I, Miftakhul Firdaus, Yan Darmadi
Penyerahan sertifikat kepada ketiga narasumber oleh Kadiv Internal
(Urut kiri ke kanan) Budi R. Permana, Iwan Bagus I, Miftakhul Firdaus, Yan Darmadi
Foto bersama pengurus ISPG, narasumber & peserta workshop
Foto bersama pengurus ISPG, narasumber & peserta workshop