Studi Pendahuluan Potensi Gas Biogenik-Termogenik Pada Area Tinggian Bawean, Cekungan Muriah, Laut Jawa Timur Utara

Rp200,000.00

Abstrak
Keberadaan reservoar pada area Barat Tinggian Bawean dan Cekungan Muriah sudah dibuktikan dengan adanya temuan gas pada
struktur Kepodang dan Lengo dengan litologi batupasir pada Formasi Tuban dan litologi batugamping pada Formasi Kujung.
Temuan ini membuat area sekitarnya menjadi menarik untuk dikaji potensi hidrokarbon dengan memperhatikan beberapa hal
yang menjadi risiko utama yaitu batuan induk dan kandungan gas inerts berupa CO2 dan Nitrogen.
Studi geokimia petroleum pada sampel gas yang diambil dari Formasi Kujung pada sumur Lengo-1, menunjukkan komposisi gas
rata-rata merupakan campuran gas hidrocarbon (67%) dan gas bukan hidrokarbon (33%). Untuk gas bukan hidrokarbon
merupakan gabungan konsentrasi CO2 yang relatif moderat (13%) dan nitrogen yang relatif tinggi (20%). Hasil pengukuran
laboratorium terhadap karbon Isotop metana (δ13) pada sumur Lengo-1 menunjukkan bahwa gas tersebut merupakan gas
biogenik, sedangkan dari plot molekular gas dan karbon isotop metana mengindikasikan bahwa gas tersebut merupakan
campuran biogenik dan termogenik. Sumber utama gas biogenik dan termogenik ini diinterpretasikan berada pada cekungan
Muriah, dimana terdapat batuserpih dan batubara yang telah dibuktikan keberadaannya oleh beberapa sumur eksplorasi.
Kandungan CO2 merupakan salah satu risiko utama dalam eksplorasi diarea ini, yang telah dibuktikan dengan beberapa sumur
eksplorasi yang memiliki kandungan CO2 relatif tinggi pada kedua objektif utama yaitu batupasir Formasi Tuban dan
batugamping Formasi Kujung. Dari sampel gas sumur Lengo-1 dapat diinterpretasikan bahwa CO2 yang terdapat pada gas
tersebut berasal dari anorganik, dimana besar kemungkinan dari aktifitas magmatik yang berkembang diarea ini. Sedangkan data
isotop CO2 dari sumur eksplorasi lainnya menunjukkan adanya CO2 yang berasal dari aktifitas organik. Dengan adanya variasi
sumber utama CO2 tersebut membuat prediksi dalam memetakan risiko CO2 memerlukan observasi lebih detil seperti melakukan
beberapa plot geokimia, pemetaan variasi pengukuran gradien geothermal dari data sumur dan interpretasi seismik guna
melokalisir area yang memiliki risiko CO2 tinggi dan CO2 rendah.