Analisa Sekuen Stratigrafi Resolusi Tinggi Daerah Sangatta, Kalimantan Timur

Rp200,000.00

SARI

Lapangan Sangatta telah berproduksi selama 20 th, dengan pemboran sebanyak 130 buah sumur, secara alamiah akhir-akhir ini produksinya mengalami penurunan. Kendala utama dalam meningkatkan produksi adalah sulitnya mengetahui penyebaran masing-masing lapisan reservoar, karena umumnya tipis-tipis dan terpotong oleh sesar normal, sehingga perangkap minyak ukurannya relatif terbatas. Hasil analisa fosil pada sumur eksplorasi SD-1 dan SD-2 dalam urutan vertikal, keberadaan foraminifera yang kadang ada dan kadang tidak ada , menjadi indikasi naik turunnya muka air laut di daerah ini. Dan sedimen tertua kearah lebih muda berturut-turut mempunyai lingkungan pengendapan batial (3080-2362 m) , neritik luar (2362-2194 m) , neritik tengah (2194-1938 m) , neritik dalam (1938-1706 m) ,transisi (1706-1590 m). Makin keatas lebih didominasi lingkungan transisi antara neritik pinggir , fluvial delta plain dan laut marginal, tetapi perubahan ini tidak dicerminkan oleh perubahan batuan secara nyata. Metode korelasi berdasarkan litologi (sand to sand) yang ada , terbukti banyak menimbulkan kesulitan karena batuannya terdiri dari lapisan batupasir tipis , batulempung dan batubara yang berulang-ulang mencapai ketebalan lebih dart 2000 m. Berdasarkan dari kenyataan tersebut analisa sekuen stratigrafi resolusi tinggi dicoba didaerah ini dengan harapan dapat memberikan gambaran penyebaran reservoar yang lebih sesuai kedudukannya dalam ruang dan waktu. Analisa sekuen stratigrafi resolusi tinggi berdasarkan data paleontologi dan data petrofisik log fasies dan 130 sumur dilapangan Sangatta, menunjukkan urutan sedimen yang dapat dibagi menjadi 14 urutan sekuen. Interval produktif dari SB-3 hingga SB-13 (meliputi sekuen-4 hingga sekuen-13) dapat dipilah menjadi 96 lapisan reservoar. Isopach dart 96 lapisan produktif ini dan bawah keatas menunjukkan gambaran model perkembangan lingkungan pengendapan gosong pasir (sand bar), gosong muara (mouth bar), alur muara (channel mouth bar), alur distribusi (distributary channels) dan fluvial channel. Perubahan gambaran isopach ini sesuai dengan perubahan penyebaran foraminifera di Sangatta.

Description

Authors : Taat Purwanto, R Haryoko, Soejono Martodjojo & Djuhaeni