Karakteristik Hidrokarbon Non-Konvensional di Graben Sumai, Cekungan Sumatera Tengah

Rp200,000.00

Sari

Hidrokarbon non-konvensional merupakan salah satu bahan energi alternatif pengganti minyak bumi. Bahan ini, yang terkandung dalam Formasi Kelesa berumur Eosen – Oligosen di Bukit Susah, menempati kawasan Graben Sumai di Cekungan Sumatera Tengah yang merupakan cekungan busur-belakang. Runtunan sebagian batuan pembawa serpih, yang baik dan cukup lengkap dengan tebal sekitar 86,8 m, dan terdiri atas serpih yang berasosiasi dengan batulanau karbonan, batupasir, batupasir konglomeratan serta konglomerat, dijumpai di Sungai Punti Kayu. Sementara itu tebal lapisan serpih lebih kurang 27,90 m. Serpih ini berpotensi sebagai oil-gas prone source rock, dalam kategori baik sampai sangat baik. Kerogen yang hadir termasuk ke dalam tipe I dan II. Secara umum, kematangan termal serpih termasuk kategori belum matang, namun memiliki kecenderungan kisaran belum matang – matang, dan masih di bawah oil birth line yang ekuivalen dengan kategori belum matang. Mineral lempung tersusun oleh asosiasi smektit-illit, dengan ilit dan kaolinit. Serpih telah mengalami proses diagenesis tingkat mesodiagenesis awal. Berdasarkan data palinologi, umur serpih di Bukit Susah adalah Eosen Tengah – Eosen Akhir.

Kata kunci: serpih, energi alternatif, Eosen-Oligosen, Bukit Susah, oil-gas prone

Abstract

Unconventional hydrocarbon, as an alternative energy resource, is recognized in the Eocene – Oligocene Kelesa Formation, located in the Bukit Susah area, within the Sumai Graben Central Sumatera Basin, of the back-arc type. An almost complete rock sequence of the 86.8 m thick part of shale-bearing formation, found in the Punti Kayu River, comprises an association of shale with carbonaceous siltstone, sandstone, conglomeratic sandstone, and conglomerate. The thickness of shale bed is approximately 27.90 meter. Shale in the study area is potential as an oilgas prone source rock, within good to excellent category, containing Kerogen Types I and I I. Thermal maturity level of the shale, in general, is situated within the immature category, although it tends to be close to the immature – mature boundary line, beyond oil birth line. Clay minerals consist of smectite-illite assosiation, with illite and kaolinite. The shale has undergone a diagenetic process within an early diagenetic level. A palynological study shows that the age of the shale in Bukit Susah is Middle to Late Eocene.

Keywords: shale, alternative energy, Eocene-Oligocene , Bukit Susah, oil-gas prone

Categories: ,

Description

Authors : M. H. Hermiyanto Z, Hendarmawan, Ildrem Syafri, H. Panggabean