Stratigrafi Sikuen Resolusi Tinggi Untuk Memahami Distribusi Reservoir di Lapangan Semberah

Rp200,000.00

ABSTRAK

Analisa sikuen stratigrafi merupakan salah satu langkah dalam interpretasi geologi untuk mengetahui fasies -fasies yang saling berhubungan secara genetik di dalam kerangka kronostratigrafi.Pada studi ini, analisa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kaitan antara zona reservoir pada posisinya di dalam sistem sikuen pada lapangan Semberah. Pada prosesnya, analisa ini membutuhkan data-data berupa geometri, litologi, fosil, struktur sedimen dan pola arus purba.Adanya keterbatasan dalam hal data maka analisa stratigrafi sikuen dalam lapangan Semberah hanya menggunakan data sumur. Data sesimik 2D digunakan sebagai pendukung distribusi litologi dan analisa struktur geologi di lapangan ini. Metode yang dilakukan dalam studi ini yakni dengan mengkorelasikan data-data sumur dengan kedalaman yang relatif dangkal (maksimum 4300 feet SSTVD) berdasarkan prinsip stratigrafi sikuen resolusi tinggi. Analisa litologi menunjukan bahwa area penelitian merupakan bagian dari Formasi Mentawir (Anggota Balikpapan) yang dicirikan oleh interkalasi batupasir dan serpih serta disisipi oleh batugamping. Interkalasi batupasir dan serpih tersebut memiliki pola tertentu sebagai akibat perubahan suplai sedimen dan perubahan muka air laut pada proses pengendapannya. Identifikasi rekaman stratigrafi di lapangan Semberah menunjukan setidaknya terdapat 6 siklus sikuen dimana di dalamnya mencakup siklus transgresi, regresi dan agradasi secara lokal sehingga membentuk systems tract.Batubara yang melimpah di hampir seluruh data sumur juga sangat membantu identifikasi sikuen dimana batubara diasumsikan memiliki distribusi yang meluas.
Integrasi data produksi minyak di lapangan Semberah dengan analisa stratigrafi sikuen menunjukan bahwa terdapat kemungkinan hubungan secara tidak langsung antara keduanya.Fase low stand (LST) dengan ciri khas pengendapan regresif dan lapisan sand tebal menunjukan distribusi hidrokarbon secara keseluruhan yang sangat kecil. Pola fining upward pada fase TST menunjukan distribusi yang cukup melimpah pada siklus tertentu sedangkan fase HST secara umum menunjukan distribusi paling melimpah. Hal ini diperkirakan erat kaitanya dengan proses pengendapan yang terjadi. Proses progradasi yang diikuti agradasi, memungkinkan terbentuknya reservoir trap yang baik walaupun distribusi sand tidak cukup besar. Adanya stratigraphic trap tersebut sangat vital karena struktur dari lapangan ini hanya berupa antiklin yang menunjam sehingga diperlukan kombinasi yang baik dengan stratigraphic trap. Hasil analisa ini juga diharapkan dapat membantu dalam mempertimbangkan strategi pengembangan lapangan.

Description

Authors : I. Zulmi, R. Ramadian, F. Fabian, M. Momen, U. Sukanta